
PDAB, bukan PDAM
30 Oktober, 2007Kadar maksimal kandungan Fe (ferum/zat besi) dan Mn (mangaan) pada air minum, menurut persyaratan yang diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan No 416/Menkes/Per/IX/1990, maksimal 0,3 mg per liter untuk Fe, dan maksimal 0,1 untuk Mn. Jika air yang dikonsumsi manusia kadar Fe dan terutama kandungan Mn berlebihan, bisa menimbulkan kerusakan pada syaraf, khususnya mempengaruhi perilaku seks seseorang.
Demikian keterangan yang diberikan Agus Suwarni SKM, MKes, Kepala Laboratorium Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Yogyakarta, menanggapi berita Bernas (9/3) tentang kadar Fe dan Mn pada air PDAM.
Seperti diberitakan Bernas (9/3), air PDAM di wilayah Kota Yogyakarta tidak layak minum, karena kandungan unsur Fe dan Mn-nya sangat tinggi. Untuk itu, Direktur Utama Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kota Yogyakarta Dachron Saleh SH mengimbau kepada warga Yogyakarta untuk tidak gegabah meminum air mentah PDAM, karena bisa berakibat buruk bagi kesehatan.
Khususnya Fe, lanjut Agus, dalam jumlah sedikit memang diperlukan untuk pembentukan sel darah merah. Tetapi, kalau terlalu tinggi dapat berdampak buruk bagi kesehatan manusia dan lingkungan, seperti munculnya warna cokelat pada air. “Fe Valensi (muatan) 2 dapat larut, sehingga berapapun tidak akan menimbulkan kekeruhan. Tapi, kalau sudah kontak dengan udara akan terjadi oksidasi menjadi valensi 3. Endapannya akan menimbulkan warna kekuning-kuningan pada air. Kalau Mn juga sama dengan Fe, pada valensi 2 dapat larut, tapi bila kontak dengan udara akan menjadi valensi 4, pada air akan menimbulkan warna cokelat,” jelas Agus.
Bukan hanya air PDAM, lanjut Agus, sumur jet pump itu airnya jernih, tapi setelah masuk bak mandi akan mengendap dan keruh. Untuk mengurangi kadar kandungan Fe dan Mn, menurut Agus, bisa diatasi dengan cara dioksidasi, yaitu air dikontakkan sebanyak mungkin dengan udara (aerasi). “Cara yang sederhana buat menara air yang penuh dengan lubang pipa kecil-kecil. Air yang menyemprot dari menara akan kontak dengan udara lebih banyak, saring dengan plastik yang berlubang-lubang pula, saring dan endapkan dengan kerikil, pasir dan ijuk”, jelas Agus.
Secara terpisah, Bina Penyuluhan Lingkungan Dinas Kesehatan (Dinkes) Yogyakarta Wiwoho mengatakan, tercemarnya air, khususnya yang dari PDAM, karena alam. Air yang ada di DIY, katanya, sudah mengandung banyak zat-zat yang kurang baik untuk kesehatan.
“Yang baik adalah air dari tuk (sumber air). Sementara yang dari Umbul Wadon, Umbul Lanang, airnya terbatas. Maka, ada pemikiran untuk mengambil air yang berada di ujung Selokan Mataram (Samigaluh dan Kalibawang, Kulonprogo), tapi diolah terlebih dahulu. Itu diperkirakan bisa mencukupi Sleman, Bantul, Kulonprogo, dan Kodya. Tapi biayanya memang mahal,” kata Wiwoho.
Selain berakibat buruk bagi kesehatan manusia, kandungan Fe dan Mn yang berlebihan bisa memperpendek usia pipa. Pipa yang rusak akibat Fe dan Mn ini biasanya menyempit dan pecah. Dari celah-celah pipa yang pecah akan masuk segala kotoran, terutama bila hari hujan. Ini juga akan menambah tercemarnya air dan munculnya berbagai bibit penyakit.
Seharusnya diganti
Sementara itu, menurut Dachron Saleh SH, nama PDAM bisa menimbulkan kesalahpahaman di masyarakat. Berita ketaklayakan air PDAM untuk diminum, tentu membuat masyarakat terkejut. Karena itu, nama perusahaan air minum selayaknya bukan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tetapi lebih tepat kalau dinamakan Perusahaan Daerah Air Bersih (PDAB).
“Sepengetahuan saya, air PDAM di seluruh Indonesia ini tak layak minum, karena airnya diambil dari sumur dalam,” ujar Dachron kepada Bernas di ruang Humas Balaikota, Jumat (9/3).
Selanjutnya Dachron mengatakan, dalam menurunkan kadar Fe dan Mn yang larut dalam air PDAM, pihaknya telah melakukan aerisasi. Sekalipun, menurut Permenkes, kualitas air PDAM termasuk kategori air yang sehat. Meski demikian, air tersebut belum dapat dikonsumsi langsung, seperti halnya air PDAM di luar negeri.
Menanggapi kritikan dari Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) tentang sejumlah pipa yang berkarat, saat ini pihaknya telah berupaya mengganti sebagian pipa yang rusak. “Pipa PDAM itu panjang totalnya mencapai 700 km. Perbaikan kita lakukan bertahap. Bukan berarti pipa yang dibangun zaman Belanda itu sama sekali tak pernah diganti,” kata Dacron.
Selain itu, Dachron juga menyambut baik usulan Walhi agar sumber air diambilkan dari mata air alami, seperti Umbul Wadon di Sleman. Karena letak mata air itu ada di daerah lain, Kabupaten Sleman tentunya keberatan jika sumber air hanya dikonsumsi masyarakat Kota Yogyakarta.(cr10/lis)
Sumber: www.indomedia.com dengan perubahan judul